Gempa Cianjur dalam visual: Sesar aktif di sekitar permukiman

Peneliti memperkirakan adanya garis sesar aktif yang membelah Kecamatan Cugenang–wilayah terdampak parah akibat gempa berkekuatan 5,6M di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin lalu (21/11). Lokasinya berada di sekitar permukiman pedesaan, bahaya untuk ditinggali.
Rumah tahan gempa menjadi salah satu solusi untuk meniminalisir korban jiwa dan kerusakan material. Lihat konstruksinya di bagian bawah.
Aktivitas sesar menyebabkan tanah di sekitarnya bergerak. Di sebelah utara, tanah bergeser ke arah barat, mendekat ke Gunung Gede Pangrango, dan cenderung terangkat hingga 13 cm.
Sementara di sebelah selatan, tanah bergeser ke arah timur atau menjauh dari gunung dan ambles hingga 15 cm.
Temuan ini menguatkan para ahli yang mengatakan bahwa muncul “sesar baru” di sekitar titik gempa.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, dalam wawancara dengan BBC menyebutnya “zona sistem Sesar Cimandiri”.
Foto ini menunjukkan pergerakan tanah dan longsor terbesar akibat gempa di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang yang menelan 30 korban jiwa. Bangunan pun hancur dan rata dengan tanah.
Longsor ini terjadi pada area yang tersusun atas breksi dan lava gunung api tertua yang telah lapuk.
Setidaknya ada empat faktor yang menyebabkan gempa ini sangat destruktif, menurut BMKG.
Pertama, titik gempa dikategorikan dangkal, sekitar 10 km di bawah permukaan tanah. Sehingga, tidak membutuhkan magnitudo yang kuat untuk menghancurkan suatu area.
“Energi yang terpancar dari sumber (gempa) sampai ke permukaan, itu masih utuh dan sangat signifikan, belum teratenuasi atau teredam dan terserap oleh material lapisan bumi. Energi itu lepas menghantam permukaan sebagai energi yang berkekuatan besar,” kata Daryono.
Peta ini menunjukkan wilayah dengan kerusakan berat di mana lebih dari 50 persen struktur bangunan hancur, dan kerusakan sedang yakni kondisi struktur bangunan rusak 30 hingga 50 persen.
Mayoritas kerusakan terjadi di area permukiman pedesaan, merujuk Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Cianjur.
Titik longsor di Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang juga berada di area permukiman dengan kontur tanah yang miring di lereng kaki gunung.
Kerusakan rumah dan bangunan, yang tercatat lebih dari 20 ribu unit pun tak dapat dielakkan.
Jika melihat peta ini, kerusakan terjadi di area padat penduduk, lebih dari 75 orang per kilometer persegi.
Risiko jatuhnya korban jiwa apabila bencana terjadi pun tinggi.
Faktor kedua, yakni tanah yang lunak. Badan Geologi mencatat kerusakan paling parah terjadi di daerah yang tersusun oleh endapan breksi dan lahar dari Gunung Gede. Gunung ini pernah memuntahkan lava pada abad 18 dan 19 silam.
Di lokasi longsor, tanah berasal dari material gunung api purba yang tertimbun, sehingga bersifat lunak dan tebal.
“Kalau ada gelombang seismik masuk, dia beresonansi, sehingga terjadi amplifikasi goncangan. Kalau lunak, itu goncangannya seperti diperbesar,” katanya.
Faktor ketiga, yakni topografi. Kontur tanah yang miring di lereng gunung berperan penting menyebabkan kerusakan.
Faktor terakhir, konstruksi bangunan yang tidak tahan gempa.
Sejak 2014, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah merilis peta risiko gempa yang menunjukkan mayoritas kawasan Cianjur berada di area gempa yang berisiko tinggi.
Sejarah pun mencatat, gempa tidak terjadi sekali ini saja.
Di sekitar area tersebut, gempa terjadi pada 1982 dengan kekuatan M 5,5 dan terulang kembali dua dekade berikutnya dengan kekuatan M 5,1 yang menyebabkan 1.900 rumah rusak.
Artinya, analisis BMKG menunjukkan, pola gempa di sekitar Cianjur terjadi setiap 20 tahun.
Dengan ancaman lokasi sesar, wilayah padat penduduk, dan gempa yang berulang, pemerintah perlu melakukan mitigasi yang matang.
“Sayangnya, rumah di zona gempa itu tidak standar aman gempa, artinya, rumah sederhana yang lemah strukturnya dan rapuh menahan goncangan gempa," ujar Daryono.






Saat ini, pemerintah berencana merelokasi permukiman terdampak longsor di sekitar titik pergerakan tanah yang parah.
Lahan seluas 16 hektare telah disiapkan. Lahan ini berada di Desa Sinargalih, Kecamatan Cilaku, Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, dan lahan di Kecamatan Mande.
Di situ, akan dibangun rumah tahan gempa bernama RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat). Rumah ini juga akan dibangun untuk warga terdampak lainnya yang tak perlu relokasi.
Seperti apa bentuk RISHA?
RISHA dibentuk dari beton bertulang baja dengan sistem teknologi bongkar pasang. Setiap bangunan terdiri dari komponen-komponen perakitnya.
Di bawah, ada pondasi yang berguna menahan beban bangunan di atasnya. Pondasi ini ditanam di dalam galian tanah dan terdiri dari batu kali, pelat beton bertulang, dan angkur atau elemen baja yang ditanam di dalam beton untuk mengaitkan panel.
Satu modul RISHA berukuran 3 x 3m. Rumah Tipe 36 tersusun dari empat modul RISHA.
Setiap modul, tersusun dari beragam panel yakni Panel P1, Panel P2, dan Panel P3 atau simpul.
Rumah ini ditutup dengan atap yang menggunakan rangka kuda-kuda, bisa berasal dari kayu atau baja ringan. Rumah ini pun dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan dan keinginan.
Dengan rumah tahan gempa, Daryono berpendapat, masyarakat bisa mendiami wilayah dengan risiko tinggi gempa. Seperti di Jepang, menurutnya, setiap rumah dan bangunan harus memenuhi kelayakan tahan gempa.
Tapi, relokasi dan rehabilitasi tak hanya memindahkan manusia dan barang, ada pula sejarah, memori, dan sumber kehidupan yang tertinggal. Itu, persoalan lain yang masih menjadi pekerjaan pemerintah.
Data dan tulisan: Aghnia Adzkia
Editor: Astudestra Ajengrastri
Grafik: Arvin Supriyadi
Ilustrasi: Davies Surya
Sumber data: The Earth Observatory of Singapore, Badan Geologi Kementerian ESDM, BNPB, Kementerian PUPR, dan BMKG
Sumber foto: BNPB, Getty Images, Google Earth
Dipublikasikan pada 6 Desember 2022