Perempuan dan Peristiwa 65

Para perempuan penyintas Peristiwa 65 berjibaku dengan trauma dan stigma akibat propaganda penguasa Orde Baru.
“Fitnah seksual” yang dirancang penguasa berujung pada perburuan, penangkapan, penahanan tanpa proses pengadilan, bahkan penghilangan paksa, yang dialami tahanan politik (tapol) perempuan.
Kekerasan, baik kekerasan fisik maupun seksual, menjadi pengalaman yang jamak mereka rasakan.
Trauma dan stigma akibat fitnah seksual itu tak hanya dirasakan para tapol perempuan, namun juga generasi penerusnya.
Mudjiati
75 tahun, penyintas Peristiwa 65


Mudjiati
75 tahun, penyintas Peristiwa 65


Magdalena Kastinah
73 tahun, penyintas Peristiwa 65


Magdalena Kastinah
73 tahun, penyintas Peristiwa 65


Sri Nasti Rukmawati
74 tahun, generasi kedua
penyintas 65

Sri Nasti Rukmawati
74 tahun, generasi kedua
penyintas 65

Yosephina Endang Lestari
76 tahun, penyintas Peristiwa 65


Yosephina Endang Lestari
76 tahun, penyintas 65


Uchikowati Fauzia
69 tahun, generasi kedua
penyintas 65

Uchikowati Fauzia
69 tahun, generasi kedua
penyintas 65

Linimasa Gerwani

Propaganda yang berpusat pada “penyimpangan seksual anggota Gerwani” memicu penangkapan, kekerasan, penahanan tanpa proses pengadilan, dan penghancuran gerakan perempuan progresif.
Propaganda terhadap Gerwani disebut lebih ampuh ketimbang propaganda yang dibuat pada Perang Dunia II terhadap kaum Yahudi. Sebab, setengah abad sesudah peristiwa itu terjadi, banyak orang masih meyakini stigma Gerwani. Namun, siapa Gerwani sebenarnya?





Linimasa Peristiwa 65

Apa di balik peristiwa yang dimulai pada 30 September 1965 malam masih menjadi tanda tanya besar.
Namun apa yang terjadi sesudahnya adalah belasan ribu orang berhaluan kiri - anggota PKI dan organisasi yang dianggap berafiliasi dengannya, termasuk Gerwani - ditangkap, disiksa, ditahan tanpa proses pengadilan.
Komnas HAM menyebut lebih dari 30.000 orang hilang akibat peristiwa tersebut.
Setelah pembebasan, mereka harus berjibaku dengan trauma dan stigma akibat stereotip yang disematkan oleh penguasa saat itu. Namun, angin segar datang ketika Orde Baru lengser dan disusul Reformasi.













Data dan tulisan: Ayomi Amindoni
Grafik: Arvin Supriyadi dan Davies Surya
Editor: Astudestra Ajengrastri dan Aghnia Adzkia
Sumber foto: Ayomi Amindoni, GettyImages, arsip pribadi
Sumber data: Komnas HAM, KontraS, Saskia Wieringa
