Pemerintah Inggris dinilai takut komitmen

Sumber gambar,
Seorang jenderal Inggris mengecam sikap pemerintah Inggris yang dia nilai terlalu takut berkomitmen terhadap masalah di Irak.
Sebagaimana dikutip harian The Times, Jenderal Sir Richard Shirreff mengatakan para politisi terlalu takut terhadap segala bentuk intervensi mengingat tahun depan Inggris menggelar pemilihan umum.
Petinggi militer Inggris paling senior di tubuh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) itu menilai pemerintah Inggris memiliki politisi yang ingin tampil tapi tanpa dilengkapi ‘tongkat pemukul’.

Sumber gambar, nato
“Yang kita miliki saat ini ialah pemerintah yang fobia membuat komitmen, takut terlihat mengirim pasukan. Semakin lama kita berpangku tangan, situasinya akan semakin berbahaya. Kondisi saat ini tidak mereda begitu saja. Tidak ada jalan pintas. Kita harus melaluinya dan menuntaskannya,” kata Shirreff.
Sejauh ini, Perdana Menteri Inggris David Cameron menolak seruan untuk mengadakan sesi khusus di parlemen dalam rangka membahas peran militer Inggris di Irak.
Kirim bantuan
Tidak seperti militer Amerika Serikat yang melakoni <link type="page"><caption> serangan udara</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/08/140809_serangan_kedua_as.shtml" platform="highweb"/></link>, keberadaan militer Inggris di Irak terbatas pada pengiriman bantuan.
Pada Selasa (12/08) ini, armada angkatan udara Inggris telah mengirim bantuan kedua ke Gunng Sinjar di belahan utara Irak.
Berdasarkan keterangan Departemen Pembangunan Internasional Inggris, bantuan 3.180 unit kontainer berisi 15.900 liter air bersih dan 816 lampu bertenaga matahari dikirimkan menggunakan pesawat-pesawat tempur tornado.
Bantuan sebelumnya dikirim pada Sabtu (09/08).
Selama beberapa bulan terakhir, milisi Negara Islam atau Daulah Islamiyah yang sebelumnya dikenal dengan sebutan ISIS telah merebut sejumlah kawasan di Irak dan Suriah.
Konsekuensinya, warga sipil di kawasan itu menjadi sasaran kelompok milisi. Termasuk di antara mereka ialah ribuan orang yang merupakan anggota komunitas Yazidi.









