
PM Jepang Yoshihiko Noda hadapi berbagai tekanan seperti pemilihan di partai dan pemilu.
Nasib Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda akan ditentukan oleh pemungutan suara para pemimpin partai, menghadapi tiga orang pesaingnya.
Noda merupakan perdana menteri keenam Jepang, dalam kurun waktu enam tahun ini, baru menjabat sekitar setahun.
Dia diperkirakan akan menang dalam pemungutan suara dan tetap berkuasa.
Noda menjadi ketua partai Demokratik Jepang setelah Naoto Kan mengundurkan diri, menyusul kritik dalam mengatasi krisis nuklir di Fukushima.
Noda menghadapi tekanan dalam masalah kenaikan pajak penjualan yang kontroversial tahun ini.
Kandidat yang maju melawan Noda untuk posisi ketua partai termasuk dua mantan menteri pertanian, Michihiko Kano dan Hirotaka Akamatsu, serta mantan menteri dalam negeri Kazuhiro Haraguchi.
Analis memperkirakan Noda akan menang mudah dalam pemungutan suara, karena didukung oleh mantan perdana menteri Kan dab kepala kebijakan Seiji Maehara mengatakan akan mendukung Noda.
Kenaikan pajak yang kontroversial memperlihatkan adanya perbedaan pendapat di parlemen dan menyebabkan keretakan dalam tubuh partai berkuasa DPJ.
Noda mengatakan kenaikan pajak sebesar dua kali lipat pada 2015 itu merupakan langkah penting bagi Jepang dalam mengurangi utang publik yang tinggi dan meningkatkan biaya kesejahteraan.
Jepang memperkirakan bahwa 40% populasinya akan memasuki masa pensiun pada 2060 - berarti pajak dan jumlah pekerja makin sedikit itu akan menopang kehidupan para pensiunan.
Beberapa perdana menteri Jepang telah memperbedatkan ide tentang kenaikan pajak penjualan, tetapi langkah itu disebutkan tidak populer dikalangan para pemilih.
Noda juga mengalami tekanan dalam menghadapi pemilu, yang akan digelar pada tahun depan.






