
Iran berharap KTT Non Blok akan mengubah opini internasional
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei membuka KTT Gerakan Non-Blok dengan mengatakan negaranya tidak menginginkan senjata nuklir.
Berbicara sebagai pemimpin dan delegasi dari 50 negara yang berkumpul di Teheran, ia juga menuduh AS "menakut-nakuti" dunia.
Krisis di Suriah menjadi salah satu agenda selama KTT yang berlangsung dua hari, demikian pula hak asasi manusia dan pelucutan senjata nuklir.
Presiden Mesir Mohammed Mursi menjadi salah satu peserta, ini adalah kunjungan pertama pemimpin Mesir ke Iran sejak 1979.
Gerakan Non-Blok (GNB) didirikan pada 1961 oleh negara-negara yang menginginkan keseimbangan antara dominasi AS dan Uni Soviet selama Perang Dingin.
Mereka bertemu tiga tahun sekali tetapi relevansi mereka terhadap peta politik internasional menurun tajam sejak berakhirnya Perang Dingin dan kejatuhan Uni Soviet.
'Nuklir untuk tujuan damai'
KTT Teheran berlangsung selama satu pekan dan dihadiri oleh pimpinan 50 dari 120 negara anggota.
Ayatollah Khamenei mengatakan kepada para delegasi, "Saya nyatakan bahwa Republik Islam Iran tidak pernah menginginkan senjata nuklir," dan menyebutnya sebagai "dosa besar yang tidak termaafkan."
Tetapi ia mengatakan Iran "tidak akan pernah menyerahkan hak atas energi nuklir yang digunakan untuk tujuan damai."
AS dan banyak sekutunya menduga program nuklir Iran bertujuan untuk membangun senjata, tetapi Teheran menegaskan nuklir mereka adalah untuk keperluan sipil.
Ia mengatakan sanksi yang diterapkan atas Iran dikarenakan program nuklir mereka "tidak hanya akan melumpuhkan kami, tetapi juga membuat langkah kami semakin mantap dan mengukuhkan prinsip kami serta meningkatkan rasa percaya diri kami.
Sang Ayatollah juga mengritik struktur 'non logis" Dewan Keamanan PBB, mengatakan bahwa hal itu membuat AS dapat "menakut-nakuti" dunia.
"Dewan Keamanan PBB memiliki struktur yang tidak rasional, tidak adil, dan sangat tidak demokratis, hal ini adalah bentuk kediktatoran," kata dia.






