Koalisi gempur Libia

Inggris, AS dan Prancis melancarkan serangan terhadap pasukan Muammar Gaddafi sebagai bagian dari tindakan pertama untuk memaksakan mandat larangan terbang oleh PBB.
Pejabat Pentagon menyatakan AS dan Inggris telah menembakan lebih dari 110 misil, sementara pesawat-pesawat Prancis menembak pasukan Gaddafi yang tengah menyerang kawasan pemberontak di Benghazi.
Lebih dari seratus misil yang ditembakan itu diarahkan ke kawasan pertahanan udara di ibukota Tripoli dan Misrata.
Tembakan pertama dilakukan sebuah pesawat Prancis menghancurkan sejumlah kendaraan militer, demikian pernyataan seorang juru bicara militer.
PM Inggris David Cameron mengkonfirmasikan kalau pesawat Inggris ikut serta dalam aksi terhadap Libia tersebut.
Sebuah kapal selam Inggris menembakan serangkaian misil dan Cameron menyatakan kalau aksi militer terhadap Libia adalah ''mendesak, berhak dan benar''.
Sumber di Tripoli kepada BBC mengatakan kalau serangan ditargetkan ke akwasan timur Sawani, Jalan Bandara dan Ghasheer. Tempat ini dipercaya sebagai markas militer Gaddafi.
Misil-misil ini menembak lebih dari 20 pangkalan militer di sepanjang pantai Mediterania.
Presiden AS President Barack Obama, saat berkunjung ke Brasil, mengatakan kalau AS mengambil langkah ''tindakan militer terbatas'' sebagai bagian dari sebuah ''koalisi yang luas''.
"Kami tidak bisa berdiam diri ketika ada seorang tirani menyatakan tidak akan memberi belas kasihan kepada warganya,'' katanya.
Bagaimanapun dia mengatakan kalau tidak ada pasukan darat AS yang ikut ambil bagian.

Serangan ini dilakukan beberapa jam setelah pemimpin negara Barat dan Arab bertemu di Paris untuk menyetujui langkah untuk memaksa resolusi PBB, yang mengijinkan ''tindakan yang dibutuhkan'' guna melindungi warga sipil dari pasukan keamanan Gaddafi.
Bertahan
Usai bombardir misil dan serangan udara, Gaddafi dalam tanggapannya menyampaikan sebuah pidato singkat yang meminta warganya untuk tetap bertahan.
"Warga sipil dan militer yang menjadi target di udara dan laut akan menghadapi bahaya yang serius di Mediterania,'' katanya.
"Gudang senjata sekarang dibuka dan massa telah dipersenjatai dengan berbagai macam senjata sebagai bagian dari kemerdekaan, persatuan dan kehormatan Libya,'' tegas Gaddafi.
Kolonel Gaddafi telah memerintah Libia selama lebih dari 40 tahun, perlawanan terhadap kepemimpinannya meningkat bulan lalu setelah para pemimpin negara tetangga seperti Tunisia dan Mesir berhasil dijatuhkan warga.









