#Trensosial: Dosen UIN Ar-Raniry "tidak melanggar syariat Islam"

Sumber gambar, Getty
Apakah warga Muslim boleh berkunjung ke rumah ibadah agama lain? Sampai di mana batas toleransi beragama dipraktikkan?
Dua pertanyaan itulah yang kebanyakan muncul dari pengguna media sosial di Facebook BBC Indonesia menanggapi berita tentang <link type="page"><caption> polemik dosen Banda Aceh.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150108_trensosial_kontroversidosen" platform="highweb"/></link>
Dosen UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, Rosnida Sari, disorot karena mengajak para mahasiswi melakukan kuliah lapangan di gereja.
Dalam sebuah artikel di situs AustraliaPlus Indonesia, Rosnida menulis bahwa kuliah lapangan itu dilakukan untuk memberikan persepsi lain tentang hubungan laki-laki dan perempuan di mata agama lain.
Kuliah lapangan ini, menurut Rosnida, untuk melengkapi pengetahuan siswa dalam mata kuliah Studi Gender dalam Islam.
Syahrizal Abbas, MA Kepala Dinas Syari'at Islam Aceh, kepada BBC Indonesia mengatakan jika dilihat dari hukum Syariat, tidak ada pelanggaran yang dilakukan.
"Dalam catatan sejarah ada memang, ketika pasukan Muslim masuk ke Palestina, gereja dijadikan tempat ibadah karena tidak ada tempat yang lain, di Istanbul dulu ada gereja besar juga dijadikan masjid," katanya.

Sumber gambar, AUTRALIA PLUS INDONESIA
"Jadi kalau dalam konteks berkunjung ke tempat ibadah agama lain dalam rangka untuk memperoleh pengetahuan, secara keilmuwan tidak ada masalah, tidak ada yang mengganjal."
"Yang jadi masalah secara kultur, dilakukan di sebuah masyarakat yang kulturnya tidak sependapat karena ada kekhawatiran-kekhawatiran," jelasnya.
Muksalmina Mta, melalui Facebook, sepaham dengan pandangan ini.
"(Tindakan dosen) bertentangan dengan kultural masyarakat di Aceh dari masa ke masa. Saya berharap semua pihak harus menghargai dengan kultural di dalam masyarakat Aceh yang masih kental dengan Ke-Islaman-nya."

Sumber gambar, FACEBOOK
Toleransi
Syahrizal Abbas mengatakan warga Aceh mengerti betul tentang toleransi, walau wilayah mereka menerapkan hukum syariat.
"Sangat toleran dan terbuka sebetulnya, kalau kita lihat di Aceh gereja banyak dan besar-besar tetapi tidak ada yang mengganggu, karena syariat Islam pun memberi penghargaan dan penghormatan terhadap keanekaragaman itu," katanya.
Pernyataan ini didukung juga oleh sejumlah pengguna Facebook, Syafrizal Umar menulis, "Hallo kami di Aceh baik-baik saja, toleransi kami cukup tinggi."
Lainnya, Jhon Lee di Pekanbaru mengatakan, "Saya suka jalan-jalan ke masjid, terus ayah saya walaupun non muslim juga pernah menjadi panitia kurban bertahun-tahun."
"Asik-asik saja kok berteman dengan muslim. Dan setahu saya muslim sejati itu tidak menyebar kekerasan."










