Berburu ludah 'berkah' dari guru spiritual untuk sembuhkan kanker - 'Saya ditipu dan anak saya meninggal'

Seorang pria yang menyemburkan air dari mulutnya, di atas gambar seorang perempuan terbaring di rumah sakit dan gambar kotak serta botol obat-obatan.

Sumber gambar, BBC via Getty

Keterangan gambar, Seorang pria yang menyemburkan air dari mulutnya, di atas gambar seorang perempuan terbaring di rumah sakit dan gambar kotak serta botol obat-obatan.
    • Penulis, Mamoon Durrani
    • Peranan, Tim Forensik BBC Afghan
  • Waktu membaca: 7 menit

Di pinggiran kota Kandahar di Afghanistan selatan, puluhan orang berkumpul di depan sebuah rumah sederhana. Mereka datang berharap mendapatkan jalan penyembuhan dari sejumlah penyakit yang mengancam nyawa, seperti kanker.

Di salah satu ruangan dengan dinding berwarna cerah, banyak orang yang sakit duduk atau terbaring lemah. Dari laki-laki, perempuan, hingga anak-anak memadati ruangan itu, meski tidak semuanya menderita penyakit berat.

Di salah satu sudut ruangan, Neda Mohammad Qadri duduk. Pria bersorban putih dan berjanggut hitam panjang itu yang hendak ditemui deretan orang yang berbondong-bondong mengantre.

Bermodalkan air dari sebuah botol yang diminum lalu disemburkan pada orang di hadapannya, Qadri mengklaim sebagai penyembuh spiritual.

Dia mengklaim dirinya adalah perpanjangan tangan Tuhan karena bisa meringankan banyak orang yang menderita kanker dan talasemia.

Sekelompok perempuan berdesakan di sebuah lorong di antara mobil yang terparkir dan sebuah dinding, mengenakan burqa dan penutup kepala dengan berbagai warna.
Keterangan gambar, Rumah Neda Mohammad Qadri secara rutin dipadati antrean panjang orang yang menunggu untuk menemuinya.

Ia menjalankan praktiknya tanpa latar belakang medis, bahkan tak berbekal pendidikan agama formal. Karier yang dijalaninya beberapa tahun lalu sama sekali tak ada hubungannya dengan kesehatan, yaitu menjadi juru masak.

Namun saat itu, ia mengklaim banyak orang yang menghampirinya untuk meminta jimat. Hal ini seolah menginspirasinya dan membuka jasa penyembuhan alternatif tersebut.

Qadri pun berkata, banyak yang kondisinya membaik setelah memperoleh penanganan darinya. Situasi ini kemudian membuat jumlah pengunjungnya meningkat signifikan, terutama pasien kanker.

Apa yang membuat warga berobat ke guru spiritual?

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada lebih dari 24.000 pasien kanker di Afghanistan tiap tahun. Dari jumlah tersebut, hampir 17.000 kematian per tahun terjadi.

Baca juga:

Angka ini yang sementara bisa tercatat. Para ahli pun memperkirakan jumlahnya berpotensi lebih tinggi mengingat banyak pasien tidak pernah menerima diagnosis karena kurangnya rumah sakit dan klinik, beserta dokter dan perawat untuk melakukan tugas perawatan dan pengobatan.

Terlebih setelah Taliban mengambil alih Afghanistan pada 2021, bantuan internasional berkurang drastis.

Contohnya, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) akhirnya berhenti memberikan dukungan untuk Rumah Sakit Mirwais di Kandahar yang merupakan pusat layanan medis regional karena keterbatasan pendanaan.

Makam yang ditutupi plastik biru dan diberi pemberat beberapa batu, berada di pemakaman yang kering dan berdebu.

Sumber gambar, Habib Ullah

Keterangan gambar, Makam putra Habibullah, Assad, yang meninggal akibat kanker setelah kesulitan mendapatkan pengobatan yang memadai.

Selain fasilitas kesehatan yang tidak memadai dan terbatas jumlahnya, biaya untuk mengakses layanannya juga cukup mahal. Salah satunya seperti rumah sakit khusus kanker yang baru-baru ini dibangun oleh pemerintah Taliban di Kabul.

Padahal, menurut para ahli, Afghanistan memiliki prevalensi kanker tertinggi. Hal ini dipengaruhi faktor gaya hidup. Antara lain, konsumsi berlebihan makanan asin, tembakau tanpa asap yang dikenal sebagai naswar, hingga tingkat polusi yang sangat tinggi.

Lansia berjanggut putih terbaring di ranjang rumah sakit dengan infus terpasang, memandang ke arah kamera di sebuah ruangan

Sumber gambar, Bilal Guler/Anadolu Agency via Getty Images

Keterangan gambar, Perawatan kesehatan di Afghanistan berada di bawah tekanan akut, khususnya sejak Taliban berkuasa pada 2021.

Bagi mereka yang sangat butuh pengobatan pun akhirnya harus berkorban, seperti menjelajah untuk mencari obat hingga membawa sendiri perlengkapan medis dasar ketika butuh perawatan dari sumber daya yang tersisa.

Sekitar 18 bulan lalu, persoalan ini bisa disiasati dengan menyeberang ke Pakistan, terutama bagi warga Kandahar yang berada di Afghanistan Selatan. Mereka dapat melintas tanpa visa sehingga bisa berobat ke rumah sakit yang lebih lengkap, termasuk untuk penyakit ringan.

Namun, akses tersebut kini terputus. Penyeberangan di Chaman–Spin Boldak berulang kali ditutup menyusul bentrokan antara Afghanistan dan Pakistan. Muncul juga pengawasan ketat yang kini membatasi obat‑obatan dari Pakistan. Padahal sebagian pasokan sangat bergantung dari wilayah ini.

Sejumlah hal ini kian menambah beban sistem kesehatan Afghanistan yang sudah rapuh.

'Saya kehilangan anak saya, saya telah ditipu'

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Istri Nazir Ahmad Maiwandwal, Shukriya, yang berusia 24 tahun, meninggal pada Maret lalu.

Shukriya, yang didiagnosis tumor otak setelah mengeluhkan sakit kepala parah lebih dari setahun, sempat menjalani pengobatan dan tindakan operasi di Pakistan.

"Setelah operasi, kondisi istri saya mulai membaik. Berat badannya bertambah, dan selama enam bulan semuanya tampak baik‑baik saja. Namun, perlahan kesehatannya mulai menurun lagi," kenang Maiwandwal.

Dalam keputusasaan, pasangan itu memutuskan kembali ke Pakistan. Akan tetapi, perbatasan telah ditutup untuk perjalanan bebas visa pada saat itu.

"Saya mengajukan visa Pakistan tiga kali, tapi selalu ditolak. Saya pergi ke Kabul, tetapi bahkan pusat perawatan kanker di sana tidak memiliki radioterapi. Saya pulang dengan kecewa."

Baca juga:

Kondisi yang dialami pasangan ini hanya satu dari sekian banyak kisah. Akibatnya, rasa pasrah mendorong masyarakat mengambil langkah apapun sebagai jendela harapan terakhir, yakni mempercayakan pada guru spiritual. Rela mengantre demi seciprat ludah dari Qadri di Kandahar yang diyakini menyembuhkan.

"Pasien kanker datang kepada saya dari setiap penjuru Afghanistan. Antara 250 hingga 300, bahkan sampai 400 orang berkunjung setiap hari," ujar Qadri.

Salah satunya adalah, putra Habibullah, Assad.

Anggota personel keamanan Taliban berjaga di perbatasan Afghanistan‑Pakistan di Spin Boldak.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Penutupan perbatasan selatan antara Afghanistan dan Pakistan setelah meningkatnya permusuhan antara kedua negara telah berdampak buruk bagi mereka yang mencari perawatan medis.

Sebelum akhirnya bertandang ke rumah Qadri, Habibullah sempat membawa putranya berobat ke Pakistan. Namun saat itu, hasilnya penyakit Assad sudah tidak dapat disembuhkan. Dokter angkat tangan. Habibullah disarankan pulang agar Assad bisa menghabiskan sisa waktunya bersama keluarga.

Mendengar hal itu, Habibullah tak mau menyerah. Ia berupaya mencari jalan lain. Ia kemudian kembali ke Afghanistan dan membawa Assad mengunjungi Qadri. Berdasarkan kabar dari teman‑temannya, Qadri telah menyembuhkan banyak penderita kanker.

"Dia memotret anak saya dan menyuruhnya menyimpan hasil foto itu. Lalu dia berkata, setelah sepuluh hari wajahnya akan berubah dan bahkan anak saya nanti tidak akan mengenali dirinya sendiri," kata Habibullah.

Baca juga:

Mereka pun pulang dengan harapan kesembuhan. Sebaliknya, kondisi Assad memburuk dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

"Saya kehilangan putra saya. Dia ditipu dengan janji‑janji kosong. Dia menawarkan uang dan jimat tapi bukan sembuh dari kanker. Sekarang, istri anak saya menjadi janda dan harus bertahan untuk lima anaknya." katanya.

Habibullah membeberkan, Qadri menerima domba sebagai pembayaran dan mematok sejumlah besar uang yang disebutnya sebagai "persembahan dan untuk transportasi".

Qadri, katanya, adalah seorang "penipu".

Berbagai obat ditumpuk dalam kotaknya di atas sebuah meja.
Keterangan gambar, Qadri berkata pada BBC bahwa ia memang memberikan antibiotik kepada pasien, tapi hanya setelah berkonsultasi dengan dokter medis.

Warga Kandahar lainnya, yang tidak ingin disebutkan namanya, juga mengunjungi Qadri untuk pengobatan kanker kulit.

"Qadri bilang tidak perlu pergi ke Pakistan atau ke tempat lain. Lalu, ia meminta saya membawa seekor domba dan berkata 'Insya Allah, kamu akan sembuh total," bebernya.

Selama sepekan, ia terus mendatangi Qadri untuk meminta doa. Selain diberi doa, ia juga diberi suntikan ceftriaxone serta tablet co‑amoxiclav dan augmentin. Ini adalah antibiotik kuat yang biasanya digunakan untuk mengobati berbagai infeksi bakteri.

"Setelah semua itu, kondisi saya tidak berubah. Saya menyadari ini buang waktu. Jadi, saya akhirnya pergi berobat ke Rumah Sakit Shaukat Khanum di Lahore, Pakistan."

Ia akhirnya pulih setelah mendapatkan perawatan medis di sana.

'Intervensi medis tetap yang utama'

Para ahli pun memperingatkan ceftriaxone harus diberikan secara intravena atau melalui saluran infus. Selain itu, tidak satu pun dari antibiotik yang diberikan Qadri itu digunakan dalam pengobatan kanker.

Tanpa anjuran dari praktisi spesialis, kata mereka, penyalahgunaan obat-obatan tersebut berbahaya dan dapat menyebabkan berbagai masalah, termasuk resistensi obat.

Menanggapi hal itu, Qadri membantah meminta bayaran atas jasanya. Namun, ia mengatakan kepada BBC bahwa sebagian orang memang menawarkan uang kepadanya sebagai ungkapan terima kasih atas apa yang ia lakukan.

"Tanya saja pada orang‑orang itu," sergahnya.

Ia juga berdalih meresepkan obat "dengan konsultasi pada dokter". Ia juga mengaku tidak pernah mencegah siapa pun untuk mencari perawatan medis.

Pasien terbaring di deretan tempat tidur di sebuah rumah sakit atau klinik.

Sumber gambar, Hamid Sabawoon/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Banyak rumah sakit di Afghanistan memaksa pasien membeli sendiri persediaan medis mereka.

Qadri bukan satu‑satunya yang menawarkan layanan semacam ini kepada warga Afghanistan yang putus asa.

Mohammad Aziz Saeedi, warga Nangarhar, bercerita putri kembarnya menderita talasemia dan membutuhkan transfusi darah bulanan untuk bertahan hidup.

Atas rekomendasi beberapa kerabat, ia membawa putri‑putrinya ke para guru spiritual. Alih-alih membaik, kondisi mereka memburuk.

"Sebagian meresepkan pantangan makanan dan yang lain memberi air berkah. Tapi tidak ada perubahan. Kemudian kami memulai perawatan medis dan sekarang kondisi mereka sangat baik," tutur Saeedi.

Para ahli mengingatkan doa dan penyembuhan spiritual dapat memberikan dukungan mental dan kenyamanan bagi mereka yang hidup dengan penyakit kronis dan mengancam nyawa. Akan tetapi, hal itu bukan menjadi pengganti intervensi medis.

Sayangnya, apa yang disampaikan para ahli ini belum tentu diterima para penderita sakit yang kini masih dengan sabar menunggu di luar rumah Qadri. Harapan yang kian tipis, bahkan nyaris tanpa pilihan yang mendorong mereka memilih jalan ini.

Dengan pelaporan tambahan oleh BBC Global Journalism