Melawan narasi anti-pemimpin perempuan di Aceh – 'Kalau perempuan jadi pemimpin, rusak negara ini'

Keterangan video, Kontestasi pilkada di Aceh masih menjadi arena yang sulit ditembus oleh perempuan.
Melawan narasi anti-pemimpin perempuan di Aceh – 'Kalau perempuan jadi pemimpin, rusak negara ini'

Calon kepala daerah perempuan di Aceh masih berjibaku melawan narasi bahwa “perempuan berbuat dosa kalau mencalonkan diri menjadi pemimpin”, di saat jumlah kandidat perempuan secara nasional meningkat dalam Pilkada 2024.

Pegiat perempuan mengatakan pro dan kontra soal boleh atau tidaknya perempuan menjadi pemimpin selalu muncul di Aceh saat musim pilkada. Hal itu juga disebut pakar gender sebagai “kemunduran”.

Kontestasi pilkada di Aceh masih menjadi arena yang sulit ditembus oleh perempuan. Saat ini, hanya ada empat perempuan yang maju dari total 162 calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah di Provinsi Aceh.

Dari sisi pemilih, secara umum, masyarakat Aceh punya pandangan beragam soal isu ini, sebagian tak terpengaruh, sementara lainnya mengamini narasi tersebut.

Mereka yang setuju bahwa perempuan “haram” menjadi pemimpin mengacu pada pernyataan ulama ternama di Aceh, Abu Mudi, yang juga menjabat sebagai petinggi sebuah partai politik lokal: Partai Adil Sejahtera.

Adapun, mereka yang berusaha melawan narasi itu kerap dianggap "menentang syariat".

Lalu bagaimana para calon pemimpin perempuan di Aceh bertarung di tengah narasi yang menentang kepemimpinan mereka? Simak video selengkapnya.

Video produksi: Nicky Aulia Widadio dan Anindita Pradana