Kisah para penyelamat sampah makanan

Keterangan video, Hari pangan dunia: Menyelamatkan makanan dari mubazir jadi cuan
Kisah para penyelamat sampah makanan

Limbah makanan, yang jumlahnya nyaris separuh dari total sampah nasional, nyatanya masih sering “dianggap tidak penting” saat orang sibuk membicarakan daur ulang sampah plastik. Inisiatif bermunculan dari individu dan komunitas untuk mengatasi problem sampah makanan.

Mulai dari Shanty Syahril, seorang ibu rumah tangga yang berperan aktif dalam membuat kompos dari sampah rumah tangga, hingga Markus Susanto, seorang pengusaha yang menggeluti bidang bio-konversi yang mengolah sampah makanan dengan menggunakan maggot (sejenis belatung). Upaya itu dilakukan sebagai salah satu cara mengurangi sampah makanan.

Pada 2023, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sebanyak 41% dari total sampah nasional adalah sampah makanan, sebagian besar bersumber dari rumah tangga.

Di seluruh Indonesia, sampah makanan bisa mencapai lebih dari 29 juta ton.

Setidaknya butuh 969.280 kontainer dengan volume masing-masing 30 ton untuk mengangkut semua sampah makanan ini.

Jika diletakkan memanjang, seluruh peti kemas ini niscaya memakan tempat hingga lebih dari 9.000 km. Ini lebih jauh dari jarak Sabang hingga Merauke.

Video diproduksi oleh Silvano Hajid dan Ivan Batara