Kerusuhan pecah di Kaledonia Baru, ribuan polisi dari Prancis akan bertahan - Mengapa sebagian penduduknya keturunan Jawa?

Bendera Kanak berkibar di seberang kendaraan yang terbakar di sebuah ruas jalan di La Tamoa, Kaledonia Baru, 19 Mei 2024.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Bendera Kanak berkibar di seberang kendaraan yang terbakar di sebuah ruas jalan di La Tamoa, Kaledonia Baru, 19 Mei 2024.

Kerusuhan berlangsung di Kaledonia Baru, wilayah otonomi Prancis di tengah Samudra Pasifik, menewaskan sejumlah orang dan ratusan terluka. Namun, yang belum banyak diketahui orang, ada ribuan orang keturunan etnis Jawa menjadi warga Kaledonia Baru. Mengapa mereka bermukim di sana dan seperti apa sejarah di baliknya? Bagaimana hubungan mereka saat ini dengan Indonesia?

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengatakan bahwa pasukan berkekuatan 3.000 orang yang dikerahkan dari Prancis akan bertahan di Kaledonia Baru – bahkan selama Olimpiade Musim Panas Paris jika diperlukan.

Ketika tiba di Nouméa pada Kamis (23/05) setelah menumpang pesawat selama 24 jam dari Paris, Presiden Macron mengatakan dia ingin kembalinya perdamaian, ketenangan, dan keamanan "secepat mungkin".

“Itu adalah prioritas mutlak,” kata Macron.

Macron juga mengunjungi markas polisi di ibu kota Nouméa. Di sana Macron mengatakan hari-hari ke depan akan sulit, namun Paris akan “berjuang sampai akhir” untuk memulihkan ketertiban.

Pemimpin Prancis itu memberikan penghormatan kepada para korban kerusuhan. Sebanyak enam orang, termasuk dua polisi, tewas dan ratusan lainnya terluka dalam kerusuhan, penjarahan, dan pembakaran yang dipicu oleh reformasi pemilu yang kontroversial.

Macron mengakui bahwa pembicaraan paling rumit adalah mengenai politik dan masa depan Kaledonia Baru, sebagaimana dilaporkan koresponden BBC di Australia, Katy Watson.

Macron bertemu dengan para pemimpin politik dan bisnis lokal termasuk para pemimpin separatis, yang sebelumnya mengatakan bahwa mereka berharap perundingan ini dapat "memberikan kehidupan baru" dalam diskusi dengan Prancis.

tentara Kaledonia Baru

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Aparat keamanan berjaga di salah satu ruas jalan di Noumea, Kaledonia Baru, 18 Mei 2024.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Sebelumnya, pada Selasa (21/05), Australia dan Selandia Baru akan mengerahkan sejumlah pesawat untuk mengevakuasi warga mereka.

Australia telah menerbangkan dua pesawat untuk menjemput 300 warganya. Adapun pesawat pertama dari Selandia Baru akan membawa pulang sekitar 50 orang, kata pemerintah di Wellington. Sekitar 290 warga Selandia Baru diyakini berada di Kaledonia Baru.

Baik Australia maupun Selandia Baru mengatakan mereka akan memprioritaskan penerbangan bagi mereka yang memiliki “kebutuhan paling mendesak”.

Wisatawan dari “negara lain” juga akan dibantu, kata Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong.

Diperkirakan sekitar 3.200 orang menunggu untuk keluar atau memasuki Kaledonia Baru.

Sejauh ini, tak ada warga negara negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam kerusuhan tersebut, menurut Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Nouméa, Kaledonia Baru.

Di tengah situasi yang menegangkan yang sedang terjadi, terdapat ribuan warga keturunan etnis Jawa yang hidup di pulau tersebut. Bagaimana mereka bisa sampai di sana dan apa sejarah di baliknya?

Apa latar belakang kerusuhan?

Kaledonia Baru telah menjadi wilayah jajahan Prancis sejak abad ke-19.

Ketegangan telah meningkat antara pemerintah pusat di Paris dan masyarakat adat Kanak yang mencakup sekitar 40% dari seluruh penduduk di kepulauan kecil ini.

Pekan lalu, Majelis Nasional di Paris mengusulkan pemberian hak pilih kepada warga Prancis yang telah tinggal di wilayah tersebut selama 10 tahun.

Para pengunjuk rasa dari masyarakat adat Kanak khawatir bahwa undang-undang baru yang memberikan hak pilih kepada warga Prancis yang telah tinggal di sana selama lebih dari 10 tahun akan melemahkan pengaruh penduduk asli.

Kaledonia Baru, kerusuhan, WNI, Jawa

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Orang-orang berkumpul di dekat mobil yang terbalik di Distrik Motor Pool di kawasan Tuband, Noumea, Kaledonia Baru, 16 Mei 2024.
Kaledonia Baru

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Polisi berjaga-jaga ketika orang-orang antri menuju supermarket untuk membeli bahan makanan di Distrik Magenta, Noumea, Kaledonia Baru, 18 Mei 2024.

Berdasarkan Perjanjian Nouméa tahun 1998, Prancis setuju untuk memberikan otonomi politik yang lebih besar kepada wilayah tersebut dan membatasi pemberian suara dalam pemilihan provinsi dan majelis hanya untuk mereka yang merupakan penduduk pada saat itu.

Lebih dari 40.000 warga negara Prancis telah pindah ke Kaledonia Baru sejak 1998.

Kaledonia Baru, Jawa, WNI, kerusuhan

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Sebuah mobil terbakar di ruas jalan provinsi Normandie, di luar Noumea, Kaledonia Baru, 16 Mei 2024.

Perjanjian Nouméa mengizinkan tiga referendum mengenai masa depan negara tersebut. Opsi kemerdekaan ditolak dalam ketiga referendeum.

Pada dua referendum, terdapat mayoritas tipis yang memilih untuk tetap menjadi wilayah Prancis. Referendum ketiga, pada Desember 2021, diboikot oleh pihak pro-kemerdekaan karena diadakan di masa pandemi Covid.

Di mana letak Kaledonia Baru?

Secara geografis, Kaledonia Baru adalah bagian dari Zealandia – sebuah fragmen dari super benua Gondwana kuno yang merupakan bagian dari Oseania. Kaledonia Baru diperkirakan terpisah dari Australia sekitar 65 juta tahun lalu, kemudian bergerak ke arah timur laut dan mencapai posisinya saat ini sekitar 50 juta tahun lalu.

Kaledonia Baru terdiri dari beberapa kepulauan di tengah Samudra Pasifik, dengan pulau terbesar bernama Grande Terre.

Berada di timur laut Australia dan utara Selandia Baru, Kaledonia Baru adalah bekas jajahan Prancis dengan status sui generis – wilayah dengan otonomi khusus.

Prancis menjajah Kaledonia Baru pada 1853 dan menjadikan tempat itu sebagai penjara bagi tahanan politik sejak 1860-an.

peta kaledonia baru

Berdasar sensus penduduk pada 2019, sekitar 271.407 orang bermukim di kepulauan tersebut, dengan mayoritas populasi keturunan Melanesia sebesar 41,21%.

Adapun 1,4% populasi – sebanyak 3.789 orang – adalah keturunan Indonesia, terutama Suku Jawa.

Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Nouméa, Bambang Gunawan mengungkapkan bahwa warga keturunan Indonesia membentuk komunitas sendiri yang dinamakan Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya (PMIK), serta mendirikan Wisma Masyarakat Indonesia dengan kapasitas 300 orang.

Mengapa ada keturunan Jawa di Kaledonia Baru?

Pada 1860-an, nikel ditemukan di Sungai Diahot, Kaledonia Baru. Sejak itu pertambangan nikel menjadi penggerak ekonomi.

Prancis membawa buruh tambang dari pulau-pulau tetangga, termasuk dari Jepang dan Hindia Belanda – saat ini Indonesia.

“Dari segi sejarah, di tahun 1896 ada kedatangan orang-orang dari Jawa ke Kaledonia Baru, pekerja kontrak untuk dipekerjakan di sektor perkebunan di sini,” ujar Bambang.

“Jadi sejarahnya mirip dengan orang-orang Jawa yang ada di Suriname,” katanya.

Pengamat Budaya dan Bahasa Jawa di Kaledonia Baru dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Subiyantoro, menjelaskan migrasi orang Jawa ke wilayah itu ditandai dengan pengiriman sebanyak 170 orang oleh pemerintah kolonial Belanda atas kesepakatan yang dibuat dengan pemerintah Prancis pada 16 Februari 1896.

“Pemerintah kolonial Batavia mengirimkan orang-orang Indonesia ke Kaledonia Baru untuk diperkerjakan sebagai kuli kontrak karena penduduk asli Kaledonia Baru sulit diajak kerja sama,” ujar Subiyantoro.

Pengamat budaya, Subiyantoro, menghadiri acara sarasehan di Nouméa bersama komunitas warga keturunan Indonesia.

Sumber gambar, Subiyantoro

Keterangan gambar, Pengamat budaya, Subiyantoro, menghadiri acara sarasehan di Nouméa bersama komunitas warga keturunan Indonesia.

Sesudahnya, gelombang pengiriman terjadi dalam kurun waktu 55 tahun sejak 1896 hingga 1949, sekitar 19.510 orang kuli dari Jawa dikirim dengan 87 kapal. Sebagian dari para pekerja itu memilih untuk menetap dan menikah dengan warga lokal.

“Di sana terjadi fenomena yang namanya hibridisasi, jadi percampuran antara Jawa dan warga Kaledonia Baru. Jawa sebagai identitas yang dia bawa dari negeri asalnya-nya dan identitas tuan rumah, yakni Kanak Prancis,” ujar Subiyantoro, seraya menambahkan percampuran budaya ini telah terjadi selama delapan hingga sembilan generasi.

Keturunan Jawa di Kaledonia Baru, kata Subiyantoro, menuturkan bahasa Jawa versi mereka yang disebut bahasa Jawa Kaledonia Baru, yang telah bercampur dengan bahasa Prancis.

Banyak pula kata-kata serapan dari bahasa Prancis yang digunakan diaspora Indonesia saat berbahasa Jawa.

“Ketika mengatakan kalimat 'ini adalah ikan yang dilindungi', bahasa Jawa-nya adalah “iki iwak sing dilindungi”. [Namun] dalam BJKB kalimat tersebut berubah dan berbunyi menjadi 'iki posong sing diproteze',” jelasnya.

Keterangan video, Mengapa ada keturunan orang Jawa di Kaledonia Baru?

Baca juga:

Bahasa Jawa yang digunakan di Kaledonia Baru adalah bahasa Jawa ngoko – biasa digunakan untuk berbicara dengan teman sebaya, orang yang lebih muda, dan orang yang sudah akrab.

Subiyantoro mengatakan keturunan Jawa di Kaledonia Baru hanya menggunakan bahasa Jawa ngoko, meski lawan bicara mungkin baru dikenal atau lebih tua.

Ia mengatakan hal ini dilakukan keturunan etnis Jawa di sana untuk menyederhanakan bahasa kedua mereka agar lebih mudah untuk belajar bahasa Prancis.

Adapun saat ini terdapat 320 warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Kaledonia Baru. Sejauh ini belum ada rencana mengevakuasi mereka.

“Kami di KJRI Nouméa terus memantau perkembangan, termasuk selalu menjalin kontak dengan WNI yang ada di sini dan pekerjaan migran,” ujar Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Nouméa, Bambang Gunawan.

Foto

WNI di Kaledonia Baru: ‘Untuk beli roti saja harus antre sepanjang 100 meter’

Supinarno, WNI yang sudah 54 tahun tinggal di Kaledonia Baru, mengatakan kerusuhan yang terjadi di jalanan Kota Noumea membuat keluarganya sulit membeli makanan.

“Hampir semua toko dibakar. Toko daging, toko roti itu dibakar. Kalau mau beli roti saja, kami harus antre 100 meter,” katanya saat dihubungi oleh BBC News Indonesia.

Saat ia mendengar kabar tentang keputusan parlemen Prancis, Supinarno mempersiapkan diri jauh-jauh hari dengan membeli makanan dan bahan bakar untuk mengantisipasi terjadi kerusuhan.

Meski kondisi sudah membaik dibandingkan beberapa hari sebelumnya, Supinarno masih belum bisa bebas keluar rumah, terutama sejak aparat setempat memberlakukan jam malam, dari jam 18.00 sore hingga 06.00 pagi waktu setempat.

“Kalau sampai kita keluar di jalan dan ketangkap lebih dari jam 6 [sore], itu kita bisa ditahan atau mungkin ditembak oleh polisi atau militer,” katanya.

Supinarno (bawah kiri) dan istrinya, Kasmini (bawah kanan) berfoto bersama anak-anak dan kerabat mereka.

Sumber gambar, Supinarno

Keterangan gambar, Supinarno (bawah kiri) dan istrinya, Kasmini (bawah kanan) berfoto bersama anak-anak dan kerabat mereka.

Supinarno tinggal bersama istrinya, tiga anaknya dan dua cucunya di sebuah rumah di pemukiman Nouméa. Mereka biasa menggunakan campuran Bahasa Jawa dan Bahasa Prancis saat berkomunikasi di rumah ataupun dengan sesama etnis Jawa.

“Kalau kami keluar kota, ke pasar atau ke toko atau ke mana, kami pakai Bahasa Prancis. Tapi kalau bertemu sesama warga kita [Indonesia], ya pakai Bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa,” ujar pria berusia 75 tahun itu.

Lahir dan besar di Yogyakarta, Supinarno pertama kali pindah ke Kaledonia Baru pada 1970-an. Saat itu, ia dan 800 pekerja Indonesia lainnya dikirim ke Kaledonia Baru untuk bekerja di pelabuhan. Dari 800 orang tersebut, tiga orang memilih menetap di Kaledonia Baru – termasuk dirinya.

Ia menikah dengan, Kasmini, warga Kaledonia Baru keturunan etnis Jawa.

“Kalau saya telepon adik-adik saya di Indonesia, mereka bertanya: kok masih ingat bahasa Indonesia? Lho, itu bahasa lahir saya dari sana [Indonesia], masa saya enggak tahu,” tutur Supinarno sambil tertawa.

Foto

Bagaimana hubungan Kaledonia Baru dan Indonesia?

Konsul Jenderal RI di Nouméa, Bambang Gunawan, mengatakan bahwa hubungan perdagangan Indonesia dengan Kaledonia Baru hampir seluruhnya didominasi oleh ekspor Indonesia ke wilayah otonomi tersebut.

KJRI Nouméa mencatat produk ekspor Indonesia ke Kaledonia Baru cukup beragam, di antaranya makanan, peralatan industri, mesin, aluminium, kertas, kayu, perabotan, alas kasur, lampu, pakaian dan aksesoris, bahan kue, alas kaki, dan elektronik.

”Produk makanan terutama yang sering diekspor kalau dari Indonesia. Kemudian sepeda juga, dan mobil Toyota dari Indonesia juga diekspor ke sini,” jelasnya.

Baca juga:

Di bidang sosial budaya, Indonesia sering memberikan pelatihan dalam hal mengolah sumber daya alam di Kaledonia Baru, seperti pohon bambu untuk perabotan dan cara memanfaatkan bumbu dalam masakan lokal.

Ia juga menyatakan budaya Jawa masih sangat kental di kalangan WNI dan diaspora Indonesia yang tinggal di Kaledonia Baru.

“Tradisi nyekar, mengunjungi makan leluhur sebelum puasa. Di sini juga masih ada yang melakukannya, sama seperti di Indonesia. Terus kemudian tradisi lain masih tetap ada,” ucapnya.

Pengamat Budaya dan Bahasa Jawa di Kaledonia Baru, Subiyantoro, mengatakan dari sisi budaya, orang Kaledonia Baru merasa dekat dengan orang Jawa di Indonesia.

“Sayangnya, banyak [orang Indonesia] yang tidak tahu tentang Kaledonia Baru,” cetusnya.