Perjuangan Hideko selama 56 tahun membebaskan adiknya yang tak bersalah dari hukuman mati

Hideko Hakamata, Iwao Hikamata

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Hideko Hakamata, 91 tahun, berjuang untuk membebaskan saudaranya—narapidana hukuman mati terlama di dunia.
Waktu membaca: 10 menit

Ketika pengadilan menyatakan Iwao Hakamata tidak bersalah pada September lalu, narapidana hukuman mati terlama di dunia ini tampaknya tidak bisa memahami, apalagi bersuka cita.

"Saya katakan kepadanya bahwa dia dibebaskan, tapi dia terdiam," ujar Hideko Hakamata, kakak perempuannya yang berusia 91 tahun kepada BBC di rumahnya di Hamamatsu, Jepang.

"Saya tidak tahu apakah dia mengerti atau tidak."

Hideko telah berjuang agar adik laki-lakinya diadili ulang sejak dia dinyatakan bersalah dan dipenjara atas kasus empat pembunuhan pada 1968.

Pada September 2024, saat berusia 88 tahun, Iwao Hakamata akhirnya dibebaskan—mengakhiri kisah hukuman terlama di Jepang.

Cemas berada di sekitar orang asing

Kasus Iwao Hakamata luar biasa.

Namun, kasus ini juga menyoroti kebrutalan sistemik yang mendasari sistem peradilan Jepang.

Di Jepang, narapidana hukuman mati menghabiskan waktu bertahun-tahun tanpa tahu apakah setiap hari akan menjadi hari terakhir mereka.

Mereka hanya diberitahu tentang hukuman gantung mereka beberapa jam sebelum eksekusi digelar.

Iwao Hakamata tinggal bersama saudara perempuannya, Hideko, sejak diberi kesempatan pengadilan ulang yang langka pada tahun 2014.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Iwao Hakamata tinggal bersama kakak perempuannya, Hideko, sejak diberi kesempatan pengadilan ulang yang langka pada 2014.

Para pakar hak asasi manusia telah lama mengutuk perlakuan seperti itu sebagai tindakan yang kejam dan tidak manusiawi.

Pasalnya hal tersebut memperburuk risiko narapidana terkena penyakit mental yang serius.

Dan lebih dari separuh hidup mereka dihabiskan dalam kurungan isolasi, menunggu untuk dieksekusi atas kejahatan yang tidak dilakukan akan sangat membebani seperti halnya Hakamata.

Sejak diadili ulang dan dibebaskan dari penjara pada 2024, Iwao Hakamata tinggal di bawah asuhan ketat Hideko.

garis

BBC News Indonesiahadir di WhatsApp.

Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

garis

Saat kami tiba di apartemennya, dia sedang jalan-jalan bersama kelompok relawan yang sedang memberikan dukungan kepada dua bersaudara yang sudah lanjut usia.

Hakamata nampak cemas di sekitar orang asing, ujar Hideko, karena selama bertahun-tahun berada "di dunianya sendiri".

"Mungkin tidak ada yang bisa dilakukan," lanjut Hideko.

"Inilah yang terjadi saat Anda dikurung dan dijejalkan dalam sel penjara kecil selama lebih dari 40 tahun."

"Mereka membuatnya hidup seperti binatang."

Hukuman mati

Seorang mantan petinju profesional, Iwao Hakamata sedang bekerja di pabrik pengolahan miso ketika jasad bosnya, istri dari bosnya, dan dua anak remaja mereka ditemukan.

Keempatnya ditikam hingga mati.

Pihak berwenang menuding Hakamata membunuh keluarga tersebut, membakar rumah korban di Shizuoka, dan mencuri uang tunai sebesar 200.000 yen (sekitar Rp20 juta).

"Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi," imbuh Hideko tentang suatu hari pada1966 ketika polisi datang dan menangnap adik laki-lakinya.

Sebelum dijatuhi hukuman mati atas empat pembunuhan dan pembakaran pada tahun 1968, Iwao Hakamata (kiri) adalah petinju profesional.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sebelum dijatuhi hukuman mati atas empat pembunuhan dan pembakaran pada tahun 1968, Iwao Hakamata (kiri) adalah petinju profesional.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Rumah keluarga Hideko digeledah, begitu pula rumah dua kakak perempuan mereka, dan Iwao Hakamata digelandang polisi.

Mulanya Hakamata menyangkal semua tuduhan polisi itu, tapi kemudian memberikan "pengakuan" setelah dipukuli dan diinterogasi selama 12 jam sehari.

Dua tahun setelah penangkapannya, Hakamata dihukum atas sangkaan pembunuhan dan pembakaran rumah keluarga bosnya. Ia dijatuhi hukuman mati.

Saat dipindahkan ke sel hukuman mati, Hideko menyadari adanya perubahan dalam perilaku Hakamata.

Baca juga:

Satu kunjungan ke penjara, perubahan itu kian menonjol.

"Ia mengatakan kepada saya, 'ada eksekusi kemarin, ada orang di sel sebelah'," kenang Hideko.

"Ia meminta saya untuk berhati-hati dan sejak saat itu, dia berubah total secara mental dan menjadi sangat pendiam."

Hakamata bukan satu-satunya orang yang terluka oleh kehidupan di sel hukuman mati Jepang.

Pasalnya para narapidana bangun setiap pagi tanpa tahu apakah itu akan menjadi hari terakhir mereka.

Iwao Hakamata (kanan) dan saudara perempuannya Hideko (kiri) dalam konferensi pers di Tokyo pada 25 November 2019.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Iwao Hakamata (kanan) dan saudara perempuannya Hideko (kiri) dalam konferensi pers di Tokyo pada 25 November 2019.

"Antara pukul 08.00 dan 08.30 pagi adalah waktu yang paling kritis, karena pada umumnya saat itulah para narapidana diberitahu tentang eksekusi mereka," tulis Menda Sakae.

Dia menghabiskan 34 tahun di sel hukuman mati sebelum dibebaskan, dalam sebuah buku tentang pengalamannya.

"Anda mulai merasakan kecemasan yang paling mengerikan, karena Anda tidak tahu apakah mereka akan berhenti di depan sel Anda."

"Mustahil untuk mengungkapkan betapa mengerikannya perasaan ini."

Foto yang diambil pada 28 Agustus 2018 ini menunjukkan Iwao Hikamata sedang bersantai di rumah tempat dia tinggal bersama Hideko di Hamamatsu, Jepang.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Foto yang diambil pada 28 Agustus 2018 ini menunjukkan Iwao Hikamata sedang bersantai di rumah tempat dia tinggal bersama Hideko di Hamamatsu, Jepang.

James Welsh, penulis utama laporan Amnesty International pada 2009 tentang kondisi di sel hukuman mati, mencatat bahwa "ancaman kematian yang akan segera terjadi setiap hari itu kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat".

Laporan itu menyimpulkan bahwa para narapidana berisiko mengalami "masalah kesehatan mental yang serius".

Hideko hanya bisa menyaksikan kesehatan mental saudaranya sendiri memburuk seiring berjalannya waktu.

"Suatu kali dia bertanya kepada saya, 'Apakah Anda tahu siapa saya?'. Saya menjawab, 'Ya, saya tahu. Anda adalah Iwao Hakamata'."

Baca juga:

"Dia bilang, 'Tidak'. 'Anda pasti di sini untuk menemui orang yang berbeda'. Dan dia kembali [ke selnya]."

Hideko maju sebagai juru bicara Hakamata dan pembela utamanya. Namun baru pada 2014, ada terobosan dalam kasus saudara laki-lakinya.

Salah satu bukti penting yang memberatkan Hakamata adalah pakaian bernoda merah yang ditemukan di tangki miso di tempat kerjanya.

Pakaian tersebut ditemukan kembali setahun dan dua bulan setelah pembunuhan.

Hideko, 91, mengatakan dia selalu merasa perlu melindungi 'adik laki-lakinya'.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Hideko, 91, mengatakan dia selalu merasa perlu melindungi 'adik laki-lakinya'.

Jaksa penuntut mengatakan pakaian tersebut milik Hakamata.

Tapi, selama bertahun-tahun tim pembela Hakamata berpendapat DNA yang ditemukan dari pakaian itu tidak cocok dengan DNA Hakamata dan menyebut bukti itu direkayasa.

Pada 2014, mereka berhasil membujuk hakim untuk membebaskannya dari penjara dan memberinya kesempatan untuk diadili ulang.

Proses hukum yang berlarut-larut membuat sidang ulang baru dimulai pada Oktober lalu.

Ketika akhirnya sidang dimulai, Hideko lah yang muncul di pengadilan, memohon agar saudara laki-lakinya dibebaskan.

Baca juga:

Nasib Hakamata bergantung pada noda tersebut dan khususnya bagaimana noda itu makin "menua".

Jaksa penuntut mengeklaim noda tersebut berwarna kemerahan ketika pakaian ditemukan. Tetapi tim pembela berpendapat bahwa darah akan berubah menjadi kehitaman setelah direndam dalam miso begitu lama.

Pembelaan tim ternyata cukup untuk meyakinkan hakim ketua Koshi Kunii, yang menyatakan bahwa "otoritas investigasi telah menambahkan noda darah dan menyembunyikan barang-barang itu di tangki miso, lama setelah insiden itu terjadi".

Hideko Hakamata (tengah) dan pengacara berpose dengan spanduk putih (kanan) bertuliskan "Iwao Hakamata tidak bersalah" saat meninggalkan Pengadilan Distrik Shizuoka di Shizuoka pada 26 September 2024.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Hideko Hakamata (tengah) dan pengacara berpose dengan spanduk putih (kanan) bertuliskan "Iwao Hakamata tidak bersalah" saat meninggalkan Pengadilan Distrik Shizuoka di Shizuoka pada 26 September 2024.

Hakim Kunii selanjutnya menemukan bahwa bukti lain telah direkayasa, termasuk catatan investigasi dan menyatakan Hakamata tidak bersalah.

Reaksi pertama Hideko adalah menangis.

"Ketika hakim mengatakan bahwa terdakwa tidak bersalah, saya sangat gembira, saya menangis," ujar Hideko.

"Saya bukan orang yang mudah menangis, tetapi air mata saya mengalir tanpa henti selama sekitar satu jam."

Keadilan penyanderaan

Kesimpulan pengadilan bahwa bukti terhadap Hakamata direkayasa menimbulkan pertanyaan yang meresahkan.

Jepang memiliki tingkat hukuman 99% dan ada sistem yang disebut "keadilan penyanderaan".

Direktur Human Right Watch Jepang, Kanae Doi, menjelaskan keadilan penyanderaan maksudnya adalah "mengabaikan hak orang yang ditangkap atas praduga tak bersalah, tak adanya jaminan atas persidangan yang berjalan cepat dan adil, dan minimnya akses ke penasihat hukum selama pemeriksaan".

"Praktik-praktik penyelewengan ini telah mengakibatkan kehidupan dan keluarga narapidana tercabik-cabik dan penjatuhan hukuman yang keliru," ujar Kanae Doi pada 2023.

Hideko berkampanye selama bertahun-tahun agar saudaranya diadili ulang.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Hideko berkampanye selama bertahun-tahun agar saudaranya diadili ulang.

Seorang profesor sosiologi di Universitas Hawaii di Manoa, David T Johnson, yang penelitiannya berfokus pada peradilan pidana di Jepang, telah mengikuti kasus Hakamata selama 30 tahun terakhir.

Ia mengatakan salah satu alasan mengapa kasus ini berlarut-larut adalah lantaran "bukti penting untuk pembelaan tidak diungkap kepada hakim hingga sekitar tahun 2010".

Kegagalan itu "sangat buruk dan tidak bisa dimaafkan," ujar Johnson kepada BBC.

"Para hakim terus menunda kasus ini, seperti yang sering mereka lakukan saat merespons petisi pengadilan ulang (karena) mereka mengaku sibuk dan hukum mengizinkan hal itu terjadi."

Baca juga:

Hideko mengatakan inti dari ketidakadilan tersebut adalah pengakuan yang dipaksakan yang dialami saudaranya.

Tapi Johnson berkata tuduhan palsu tidak terjadi karena satu kesalahan.

Sebaliknya, tuduhan itu diperparah oleh kegagalan di semua tingkatan—mulai dari kepolisian hingga jaksa, pengadilan, dan parlemen.

"Hakim yang memutus," imbuhnya.

"Ketika terjadi kesalahan dalam putusan, pada akhirnya itu karena mereka yang memutuskannya."

Foto yang diambil pada 29 September 2024 ini menunjukkan Iwao Hakamata (Kiri) berbicara sementara saudara perempuannya Hideko (kanan) yang berusia 91 tahun memegang mikrofon di hadapan para pendukung mereka di prefektur Shizuoka.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Foto yang diambil pada 29 September 2024 ini menunjukkan Iwao Hakamata (Kiri) berbicara sementara saudara perempuannya Hideko (kanan) yang berusia 91 tahun memegang mikrofon di hadapan para pendukung mereka di prefektur Shizuoka.

"Terlalu sering, tanggung jawab hakim menghasilkan dan mempertahankan kesalahan dalam putusan diabaikan, dikesampingkan".

Dengan latar belakang tersebut, pembebasan Hakatama merupakan titik balik dan momen langka keadilan retrospektif.

Setelah menyatakan Hakatama tidak bersalah, hakim yang memimpin persidangan ulang meminta maaf kepada Hideko atas lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai keadilan.

Beberapa saat kemudian, Takayoshi Tsuda, kepala polisi Shizuoka, mengunjungi rumah Hideko dan membungkuk di depan saudara laki-laki dan perempuan tersebut.

Baca juga:

"Selama 58 tahun terakhir... kami telah menyebabkan Anda mengalami kecemasan dan beban yang tak tergambarkan," kata Tsuda.

"Kami benar-benar minta maaf."

Hideko melontarkan jawaban yang tak terduga kepadanya.

"Kami percaya bahwa semua yang terjadi adalah takdir kami," ucapnya.

"Kami tidak akan mengeluh tentang apa pun sekarang".

Pintu merah muda

Setelah hampir 60 tahun dilanda kecemasan dan sakit hati, Hideko menata rumahnya dengan tujuan agar cahaya masuk.

Kamar-kamarnya jadi cerah dan menarik karena dipenuhi foto-foto dirinya dan Iwao beserta teman-teman dan keluarga.

Hideko tertawa saat membagikan kenangan tentang adik laki-lakinya yang "imut" saat masih bayi, sambil membolak-balik foto keluarga hitam-putih tersebut.

Sebagai anak bungsu dari enam bersaudara, adik laki-lakinya itu tampak selalu berdiri di sampingnya.

Iwao Hakamata, 88, dibebaskan pada September 2024

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Iwao Hakamata, 88, dibebaskan pada September 2024.

"Kami selalu bersama saat masih anak-anak," jelasnya.

"Saya selalu tahu bahwa saya harus menjaga adik laki-laki saya. Begitulah seterusnya".

Dia lalu masuk ke kamar Hakamata dan memperkenalkan kucing oranye mereka yang menempati kursi yang bisa diduduki Hakamata.

Kemudian dia menunjuk foto-foto sang adik saat menjadi petinju muda profesional.

"Dia ingin menjadi juara," imbuhnya.

"Lalu insiden itu terjadi."

Baca juga:

Setelah Hakamata dibebaskan pada 2014, Hideko ingin membuat apartemennya seterang mungkin, jelasnya.

Jadi ia mengecat pintu depan dengan warna merah muda.

"Saya percaya bahwa jika dia berada di ruangan yang terang dan memiliki kehidupan yang cerita, dia akan sembuh dengan sendirinya."

Itulah hal pertama yang diperhatikan orang ketika mengunjungi apartemen Hideko.

Tidak jelas apakah hal itu berhasil, sementara Hakamata masih mondar-mandir selama berjam-jam, sama seperti yang dia lakukan selama bertahun-tahun di sel penjara seukuran tiga tikar tatami.

Hideko Hakamata (tengah) dan pendukung kakaknya Iwao Hakamata, memasuki Pengadilan Tinggi Tokyo pada 13 Maret 2023.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Hideko Hakamata (tengah) dan pendukung kakaknya Iwao Hakamata, memasuki Pengadilan Tinggi Tokyo pada 13 Maret 2023.

Namun, Hideko menolak untuk berlama-lama memikirkan seperti apa kehidupan mereka jika bukan karena kesalahan hukum yang begitu mengerikan.

Ketika ditanya siapa yang dia salahkan atas penderitaan saudaranya, dia menjawab: "tidak seorang pun".

"Mengeluh tentang apa yang terjadi tidak akan membawa kita ke mana-mana".

Prioritasnya sekarang adalah membuat saudaranya merasa nyaman. Dia mencukup wajah Hakamata, memijat kepalanya, mengiris apel dan aprikot untuk sarapan setiap pagi.

Hideko yang telah menghabiskan sebagian besar dari 91 tahun hidupnya untuk memperjuangkan kebebasan saudaranya, berkata bahwa ini adalah takdir mereka.

"Saya tidak ingin memikirkan masa lalu. Saya tidak tahu berapa lama saya akan hidup," ucapnya. "Saya hanya ingin Iwao menjalani kehidupan yang damai dan tenang."

--

Dalam artikel-artikel sebelumnya, kami menggunakan "Hakamada", ejaan yang benar dari nama keluarga Iwao dan Hideko adalah "Hakamata".