'Mereka pingsan, karena desak-desakan' – Puluhan ribu pengangguran bersaing di bursa kerja
Iklan bursa kerja (job fair) yang muncul hampir tiap pekan di media sosial bak angin segar bagi pencari kerja. Namun realitanya, mereka juga harus bersaing dengan jutaan orang yang menganggur di Indonesia.
Salah satu pencari kerja, Kenzi Jayanto, menjadi saksi betapa ketatnya persaingan ini kala situasi menjadi tak terkendali di pameran bursa kerja yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi di Gedung Convention Center President University, Cikarang Utara, Jawa Barat pada selasa (27/05).
"Saya melihat orang-orang berkelahi berebut pindai kode QR (Quick Response)," kata Kenzi kepada BBC News Indonesia, Rabu (27/05).
Menurut polisi, 25.000 orang pencari kerja mendatangi job fair itu, padahal hanya tersedia 3.000 lowongan pekerjaan.
Situasi tidak terkendali ketika massa berebut memindai kode QR dan saling dorong.
Kenzi melihat beberapa orang digotong menuju ambulans.
"Mereka pingsan, karena desak-desakan."
Sementara lainnya, kata Kenzi, "berebut masuk ke ruangan job fair".
Beberapa hari sebelumnya, Kenzi juga datang ke pameran bursa kerja juga digelar di gedung Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta.
Amplop cokelat pembungkus surat lamaran terlihat dipegang erat-erat para pencari kerja dalam beberapa kesempatan pameran bursa kerja.
Sebagian beruntung bisa wawancara langsung, tetapi ribuan lainnya tidak jelas nasibnya.
Hujan tiba-tiba turun di halaman gedung Kementerian Ketenagakerjaan yang punya hajat mendatangkan puluhan ribu pencari kerja.

Sumber gambar, Dok. Kenzo Jayanto
Kenzi Jayanto, pria berusia 22 tahun dan sudah menganggur enam bulan, datang ke pameran bursa kerja itu dengan ibunya, Nelwanti.
Mereka datang dari Cikarang, Jawa Barat sejak pukul 07.00 pagi, tiga jam sebelum acara digelar.
Sang ibu mengaku khawatir dengan anaknya yang tak kunjung mendapat pekerjaan.
"Saya takut dia depresi, maka saya temani dia ke sini, untuk orang tua di luar sana, mohon bersabar jika anaknya belum dapat kerja, karena zaman sekarang susah cari pekerjaan," jelas Nelwanti.
Mereka berdua penuh peluh karena telah berkeliling dan mendatangi puluhan stan perusahaan. Namun, hasilnya nihil.
"Saya hanya disuruh memindai kode QR, habis itu sudah, berpindah ke stan lain," ungkap Kenzi sambil menyeka keringatnya.
"Habis scan kode QR, ternyata lowongannya baru ada dua atau tiga bulan lagi," tambah sang ibu, Nelwanti.
Kenzi kembali jalan berimpitan dengan pelamar lainnya.
Sang ibu yang berada di depannya memandu untuk mencarikan stan perusahaan lain yang "mungkin bisa diprospek."

Sumber gambar, BBC/Silvano Hajid
Empat hari kemudian, Kenzi mengabarkan, tidak ada satu pun perusahaan yang meneleponnya usai menyebar ratusan lamaran.
Lewat pesan WhatsApp, dia bilang "Maaf baru mengabari, saya tadi masih ikut job fair lagi, kali ini di Cikarang."
"Orang yang datang banyak sekali, jadi sulit sekali mendapat sinyal ponsel," tambahnya.
Padahal dalam job fair itu, para pencari kerja harus memindai kode QR dan mengisi formulir Google untuk mendaftar hingga dapat mengirim lamaran.
"Saya harus keluar area job fair, mencari sinyal dan mengisi lamaran."
Kenzi bersaing dengan puluhan ribu pelamar, kali ini hanya untuk melayangkan surat lamaran ke perusahaan yang menawaran pekerjaan.

Sumber gambar, BBC/Silvano Hajid
Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pengangguran di Indonesia sebanyak 7,28 juta jiwa pada Februari 2025, atau naik 1,11% jika dibanding 2024.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka—persentase jumlah orang yang menganggur terhadap jumlah angkatan kerja—mencapai 4,76%.
International Monetary Fund (IMF) juga memproyeksikan angka pengangguran di Indonesia pada 2025 akan mencapai 5,0%, tertinggi nomor dua di kawasan Asia setelah China yang konsisten menyentuh angka 5,1% sejak tahun lalu.
Proyeksi yang tertuang dalam World Economic Outlook edisi April 2025 menyebut angka pengangguran Indonesia akan naik, menjadi 5,1% pada 2026 mendatang.
Baca juga:
Di tengah keadaan itu, Putri Pardosi yang baru wisuda bulan lalu mencoba peruntungannya di bursa kerja yang digelar Kementerian Ketenagakerjaan.
Sudah 15 menit dia mengantre di bawah rintik hujan, payung merah mudanya mengembang melindungi dirinya.
Dia berjinjit mengintip ujung antrean yang mulai tak terlihat karena terlalu panjang.

Sumber gambar, BBC/Silvano Hajid
Samping kanan dan kirinya juga berbaris menunggu giliran masuk ke ruang job fair.
"Saya tidak akan tahu apakah saya akan mendapat pekerjaan dari job fair ini, tetapi kalau tidak dicoba dan diam saja, bahkan tidur di rumah, akan lebih salah lagi," tegas putri.
Tak lama, Putri berhasil masuk ke ruang job fair, tenggelam bersama lautan manusia yang jalan berhimpitan mendatangi tiap stan perusahaan-perusahaan yang menawarkan pekerjaan.

Sumber gambar, BBC/Silvano Hajid
Dalam dua hari pameran bursa kerja Kementerian Ketenagakerjaan pada 22-23 Mei lalu, tercatat ada 22.010 pencari kerja yang datang.
Namun, hanya 912 orang yang berhasil sampai tahap wawancara langsung.
Melihat keadaan ini, pemerintah berkomitmen untuk dapat membuka lapangan kerja dengan memetakan sektor-sektor lain yang berpotensi menyerap tenaga kerja.
Salah satunya adalah sektor pertanian yang dapat menyerap 890.000 tenaga kerja.
Langkah lainnya adalah meminta perusahaan yang disebut pemerintah sebagai 'mitra industri' untuk tidak membuat syarat yang berat bagi calon pelamar.
"Kita berharap mitra industri tidak membuat syarat seperti batas usia, atau berpenampilan menarik, bahkan status pernikahan," kata Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer Gerungan.
Produksi video: Silvano Hajid



