Primata mengupil yang memantik misi pencarian ilmiah

Maddie Molloy, BBC News

aye-aye
Keterangan gambar, Seekor aye-aye terekam sedang mengupil dengan jarinya yang panjang.

Ini adalah sebuah misi biologis yang dimulai dengan pertemuan tak sengaja dengan seekor lemur yang sedang mengupil.

Tapi dia bukan sembarang lemur; ini adalah seekor aye-aye yang tertangkap kamera milik Prof Anne-Claire Fabre dari Universitas Bern. 

Dalam video itu, lemur tersebut sedang membenamkan salah satu jarinya yang panjang ke lubang hidung.

“Saya penasaran, ke mana jarinya pergi?” kata sang ilmuwan kepada BBC.

Keterangan video, VIDEO: Lihat bagaimana aye-aye ini mengupil.

Dalam pertemuan di Duke Lemur Center di AS, Profesor Fabre dan rekan-rekannya berbekal video ini mulai bertanya tentang asal muasal kebiasaan ini dan seperti apa evolusinya.

Aye-aye adalah primata nokturnal yang hanya hidup di Madagaskar. Mereka terkenal karena jari-jari mereka yang tampak aneh, panjang dan kurus, yang dipakai untuk menyisir belatung dan serangga dari dahan-dahan pohon.

“Binatang itu memasukkan seluruh jarinya ke lubang hidung, [jika Anda lihat] ukuran kepalanya, Anda akan berpikir - sampai mana jarinya?” kata Prof Fabre.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

“Saya penasaran - apakah dia memasukkan jari sampai ke otaknya? Ini terlihat sangat aneh dan tidak mungkin.”

Pertanyaan ini sangat mengganggu Prof Fabre, sampai dia membuat analisis anatomis 3D dari kepala aye-aye, untuk merekonstruksi anatomi yang tampak mustahil dari kegiatan mengupil itu.

“Jarinya masuk ke area sinus dan dari sinus ke arah kerongkongan dan ke dalam mulut,” jelasnya.

Baca juga:

Bersama rekan-rekannya, Prof Fabre mencari literatur ilmiah untuk mendapatkan petunjuk tentang binatang-binatang lain yang juga punya kebiasaan mengupil.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Zoologi, tim menemukan 12 contoh primata yang tertangkap basah sedang mengupil.

Prof Fabre, yang juga seorang kurator di Museum National History di Bern, mengatakan hanya ada sedikit penelitian yang bertujuan untuk memahami mengapa hewan tertentu, termasuk manusia, telah mengembangkan dorongan untuk mengupil.

“Kami merasa perilaku ini tidak dipelajari karena mengupil dilihat sebagai kebiasaan yang buruk,” jelas Prof Sabre.

Sejumlah penelitian yang melihat kebiasaan ini pada manusia membuktikan bahwa mengupil adalah perilaku yang umum dan sering, namun kebanyakan orang segan untuk mengakuinya.

Orangutan

Sumber gambar, VICTORIA GILL

Keterangan gambar, Belasan primata, termasuk orangutan, memiliki kebiasaan mengupil.

Ada pula beberapa penelitian yang mencari tahu efek buruk - dan mungkin juga efek bagus dari mengupil.

Beberapa menemukan mengupil turut menyebarkan bakteri berbahaya. Tapi ada setidaknya satu penelitian yang menemukan bahwa mengupil lalu memakannya kemungkinan justru menyehatkan gigi, karena orang-orang yang mengupil dilaporkan memiliki lebih sedikit gigi berlubang.

Satu penelitian lain mendorong dilakukannya penelitian tambahan, karena menemukan bahwa menelan lendir hidung dapat memainkan peran penting untuk sistem kekebalan tubuh.

Ingus, atau lendir hidung, mengandung protein yang berguna bagi kekebalan tubuh.

Pada intinya, kata Prof Fabre, mengupil kemungkinan adalah hasil evolusi beberapa spesies karena suatu alasan dan ini harus diselidiki.

“Kita tidak tahu apa fungsinya sebenarnya,” kata dia kepada BBC. “Dan bisa jadi mengupil menguntungkan.”

Alih-alih sekadar menjijikkan, mengupil mungkin bermanfaat bagi beberapa spesies, karena cukup banyak hewan yang ternyata memiliki kebiasaan ini.

“Saya pikir kita harus benar-benar mencari tahu alasannya,” kata Prof Fabre.