Obat dari ‘magic mushroom’ bisa dipakai untuk perawatan depresi akut

jamur

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,  Para ilmuwan mengembangkan bentuk sintetik psilocybin.
    • Penulis, Philippa Roxby
    • Peranan, Reporter kesehatan BBC

Satu obat yang dibuat berdasarkan senyawa dari jamur halusinogen dapat meringankan gejala depresi akut hingga 12 pekan, menurut percobaan.

Sebuah tablet 25 mg psilocybin dapat membuat pasien merasa seperti berada di alam mimpi, sehingga membuat terapi psikologis dapat lebih sukses dilakukan.

Namun efek samping jangka pendek bisa jadi menakutkan dan antisipasi bantuan harus selalu siaga, kata para ilmuwan.

Para ahli berkata, penelitian lebih besar dengan tindak lanjut yang lebih panjang masih dibutuhkan.

Diperkirakan 100 juta orang di seluruh dunia mengidap depresi klinis serius dan tidak tertangani oleh berbagai perawatan yang sudah ada — menjadikan percobaan pembunuhan sebanyak 30%.

Baca juga:

Para ilmuwan sendiri telah mempelajari efek psilocybin untuk perawatan kesehatan mental selama bertahun-tahun.

Penelitian terbaru ini cukup menjanjikan, meskipun dirasa terlalu pendek untuk menganalisa efek jangka panjang.

Dalam uji klinis terbaru tersebut, yang hasilnya dipublikasikan di New England Journal of Medicine, dosis 1 mg, 10 mg, dan 25 mg diujikan kepada total 233 orang dari 10 negara di Eropa dan Amerika Utara.

Dosis 25 mg memberikan hasil tes terbaik.

‘Mimpi saat terjaga’

Kebanyakan responden telah mengalami depresi akut selama lebih dari setahun dan berusia sekitar 40 tahun, menurut tim ilmuwan dari Institute of Psychiatry, Prychology and Neuroscience di Kong’s College London dan NHS Foundation Trust dari London Selatan dan Maudsley.

Setelah pemberian Comp360 psilocybin dengan dosis 25 mg yang dibarengi psikoterapi:

  • satu dari tiga orang tidak lagi didiagnosa depresi di minggu ketiga
  • satu dari lima orang memperlihatkan perkembangan signifikan pada minggu ke-12

Salah satu penulis makalah dan psikiater konsultan Dr James Rucker berkata obat ini diyakini memicu “kinerja langsung di otak, membuatnya berada dalam keadaan lebih fleksibel, dan menyediakan kesempatan untuk terapi”.

ruangan uji klinis
Keterangan gambar, Ruangan di mana para pasien dengan depresi akut dirawat dengan obat percobaan halusinogen.

Para pasien, yang tiduran di atas tempat tidur di dalam ruangan yang tenang, mengalami “perjalanan” psikedelik – yang oleh seorang pasien dijelaskan seperti “mimpi saat terjaga” – selama enam sampai delapan jam.

“Ini bisa jadi sangat positif, tapi juga bisa jadi sangat negatif,” kata Dr Rucker kepada BBC News.

“Memori-memori menyakitkan dari masa lalu bisa muncul, misalnya, di saat sama dengan munculnya perasaan terkoneksi dengan diri Anda sendiri.”

Seorang ahli terapi berada di dekat pasien dalam proses ini untuk memberikan bantuan bila diperlukan.

Masalah keamanan

Di hari berikutnya dan seminggu setelahnya, pasien akan diberikan bantuan psikologis untuk membicarakan pengalamannya.

“Para pasien yang sebelumnya bertanya ‘Apa yang salah dengan diri saya?’ sekarang bertanya ‘Apa yang terjadi pada diri saya?’” kata ahli psikoterapi Nadav Liam Modlin.

Beberapa pasien di semua kelompok mengalami efek samping, seperti sakit kepala, mual, kelelahan ekstrem, dan pikiran-pikiran untuk bunuh diri.

Ini bukan hal tak biasa, kata para peneliti - namun ahli-ahli lain berkata ini bisa jadi pertanda adanya masalah keamanan.

Baca juga:

‘Permasalahan yang berlarut-larut’

jamur

Sumber gambar, Getty Images

Kepala Psikiatri Universitas Edinburg Prof Andrew McIntosh berkata uji klinis ini memberikan “bukti terkuat sejauh ini untuk membenarkan diadakannya percobaan psikadelik labih lanjut, lebih besar, dan lebih lama”.

“Psilocybin mungkin [suatu hari nanti] menyediakan potensi alternatif untuk antidepresan yang telah diresepkan selama berpuluh-puluh tahun,” tambahnya.

Namun para ahli lain juga menekankan dalam percobaan ini, efek obat mulai memudar setelah 12 pekan.

“Depresi bisa menjadi permasalahan yang berlarut-larut dan periode lebih lama dari 12 pekan dibutuhkan,” kata Dr Ravi Das dari University College London.

Uji klinis yang lebih besar akan segera dimulai untuk mempelajari berapa banyak dosis yang dibutuhkan supaya depresi tidak datang lagi.

Butuh setidaknya tiga tahun sebelum obat ini dapat diotorisasi, kata tim peneliti.